Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
copyright . 2015 @ majalahbuser.com
Jakarta -- Usai jatuhnya jet Rusia akibat diroket pesawat tempur Turki, jagad maya ramai membicarakan kemungkinan akan terjadinya Perang Dunia III. Bahkan hal ini sempat menjadi trending topic di Twitter, namun dengan nuansa setengah bercanda, lengkap dengan meme.

"Perang Dunia II adalah kasus langka saat sekuel lebih baik. Melakukan Perang Dunia III akan merusak waralabanya #SayNoToTheTrilogy," tulis seorang pengguna akun Twitter, @harrichun.

Wacana soal Perang Dunia III bisa dipahami karena insiden yang terjadi pada Selasa lalu bukan hanya soal Turki dan Rusia, tapi juga dilatari konflik Suriah serta banyak negara lain yang berperang di dalamnya.

Rabu, 25/11/2015

Insiden Jet Rusia, Wacana Perang Dunia III Mencuat
F-16 Turki Tembak Jatuh Jet Bomber Su-24 Rusia
Rusia saat ini berperang di Suriah untuk membantu rezim Bashar al-Assad menggempur pasukan pemberontak. Sementara Turki, berada bersama pasukan koalisi Barat pimpinan Amerika serikat, tengah menyerang ISIS di Suriah dan Irak serta mendorong jatuhnya rezim Assad.

Selain itu, dikhawatirkan Rusia akan melancarkan serangan balasan ke Turki yang berarti perang. Jika demikian, Turki sebagai anggota NATO akan mendapatkan dukungan militer dari 27 negara dengan teknologi tempur canggih lainnya di Amerika Utara dan Eropa, sebagai salah satu komitmen organisasi aliansi Atlantik utara itu.

Frida Ghitis, kolumnis untuk Miami Herald dan World Politic Review dalam tulisan opininya di CNN mengatakan bahwa jika jatuhnya jet Rusia oleh Turki terjadi pada masa Perang Dingin, maka kemungkinan besar akan berujung pada perang nuklir. Tapi tidak di masa sekarang.

Salah satu Twit soal Perang Dunia. (@GarethBale22)
"Beruntung konflik itu telah usai. Alih-alih menekan kode nuklir, Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan pertemuan darurat di Dewan Keamanan PBB sementara NATO mengadakan rapat mendadak sendiri," tulis Ghitis.

Berbagai pengamat mayoritas satu suara mengatakan bahwa Perang Dunia III tidak akan terjadi. Pasalnya, Rusia sejauh ini hanya melontarkan kecaman dan menempuh cara diplomatik dalam membalas Turki.

Presiden Rusia Vladimir Putin dalam komentarnya menyebut Turki "menikam dari belakang" dan mengatakan negara pimpinan Recep Tayyip Erdogan itu sebagai "sekutu teroris."

Serangan diplomatik telah dilancarkan. Menteri luar negeri Rusia membatalkan lawatan ke Turki pekan ini. Kementerian Pertahanan Rusia memutuskan sementara hubungan militer kedua negara.


Tidak akan berlarut-larut

Mark Galeotti, ahli keamanan Rusia di New York University dalam blog-nya memprediksi ketegangan diplomatik antara Rusia dan Turki serta para sekutu di belakangnya tidak akan berlangsung lama, apalagi sampai berujung kontak senjata.

"Saya menduga, baik Moskow, atau setidaknya, kekuatan Eropa di NATO tidak akan membiarkan hal ini berlarut-larut." kata Galeotti.

"Rusia tidak bisa menang dalam perang diplomatik panas melawan banyak negara, dan Eropa jelas ingin Moskow jadi bagian solusi konflik Suriah dan juga Ukraina. Dan sejujurnya, banyak yang mengkhawatirkan Turki, soal agenda dan perannya di kawasan," lanjut dia lagi.

Namun pengamat Timur Tengah dari lembaga think tank Inggris, Royal United Service Institute, Shashank Joshi, mengatakan situasi yang ada saat ini sangat berbahaya dan rawan agresi militer. Menurut dia sebuah konflik parah, seperti Perang Dunia, biasanya bermula saat ada aliansi besar di belakangnya.

"Situasi sangat berbahaya karena Rusia kemungkinan akan sengaja menyelidiki soal wilayah udara Turki dengan alasan militer atau politik," kata Joshi, dikutip dari The Independent.

Lembaga pengamat konflik bersenjata, IHS Janes Terrorism and Insurgency Center, dalam pernyataannya mengatakan bahwa ketegangan antara Turki dan Suriah sepertinya hanya akan terbatas ke dua negara ini saja, sementara dengan negara lain hanya berkutat di ranah diplomasi.

"Implikasi dari peristiwa ini sepertinya terbatas pada krisis diplomatik. Namun, insiden seperti ini di masa depan antara Turki dan Rusia sangat mungkin terjadi, karena kedua negara menolak untuk mundur," ujar pengamatan IHS Janes Terrorism and Insurgency Center, seperti dikutip dari NBC News.

Insiden ini juga terjadi di tengah meregangnya hubungan antara Rusia dan Barat, menambah lebarnya jurang perselisihan kedua kubu. Sebelumnya, Barat geram pada Rusia yang telah mencaplok Crimea dan kian membakar konflik di Ukraina, berujung sanksi ekonomi dan embargo.

Professor hubungan internasional dari Anglia Ruskin University di Inggris, Ian Shields, mengatakan Rusia akan menahan diri untuk tidak bereaksi lebih lanjut, terutama melakukan agresi militer, karena khawatir AS dan Eropa akan menjatuhkan sanksi ekonomi lagi.

"Rusia akan kalah dalam hal ini, dan akan terluka lagi, jika terlampau jauh dan AS serta Eropa akan meningkatkan tekanan ekonomi. Kita sekarang jauh saling bergantung secara ekonomi dibanding sebelumnya," ujar Shields. (stu/cnn)
      Berita Nasional :