Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2015 @ majalahbuser.com
Lumajang - Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Timur dan Kontras turun ke Lumajang melakukan investigasi. Mereka dikagetkan dengan temuan yang sangat mencegangkan terkait pembunuhan terhadap warga penolak tambang pasir pesisir pantai selatan.

Ketua Kontras Surabaya, Fathul Khoir mengatakan, aksi kekerasan dan pembunuhan di Selok Awar-Awar Kecamatan Pasirian dari hasil investigasi ada sesuatu kejahatan yang direncanakan. Karena, pembataian pada korban Salim alias Kancil memiliki kronologi tersusun rapi.

"Kami temukan ada sudah perencanaan jauh hari," ungkapnya di Warung Kembang Jl. Gajah Mada Kota Lumajang, Minggu (27/9/2015).
Senin, 28 September 2015

Temuan Walhi dan Kontras:
Salim alias Kancil Dibacok dan Digergaji tapi Tak Mempan
Lanjut dia, Salim, Tosan, dan lainnya yang menolak tambang sebanyak 6 orang sudah diancam untuk dibunuh oleh Tim 12 yang pro tambang. Sehingga, warga penolak tambang melakukan pelaporan ke Polres untuk mendapat perlindungan tanggal 10 September. "Tapi laporan ini, tidak mendapat perhatian dari aparat kepolisian," ungkapnya.

Akibatnya, ada aksi kekerasan oleh kelompok pro tambang, yang aksinya dilakukan pada Sabtu(26/9/2015) dini hari. Para pelaku yang mencapai puluhan menjemput Salim ke rumahnya dibawa ke Balai Desa. "Di Balai Desa, korban disiksa dengan cara disetrum," ungkapnya. Kemudian, korban dibawa ke jalan sepi dengan cara dibacok dan digergaji namun tidak mempan. Sehingga, korban dibunuh dengan cara keji pakai batu yang dilemparkan dan dipukul dengan kayu. "Inilah kesadisan mereka terhadap korban Salim," ujar Fathul.

Rere Christanto, selaku Program Manajer Walhi Jawa Timur juga memiliki pendapat senada, ada sebuah desain besar, karena peristiwa di Selok Awar-awar hampir sama dengan konflik penolakan tambang ilegal. Apalagi, kawasan pesisir dalam Undang-Undang dilarang untuk dilakukan penambangan. "Sebenarnya, Pemerintah Kabupaten, Kecamatan, Desa, aparat keamanan sudah mengetahui kerawanan ini, tapi dibiarkan dan terjadi peristiwa yang cukup sadis tanpa perikemanusiaan," tegasnya.

Ini Kronologi Pembunuhan Sadis 'Salim Kancil'

Hasil investigasi Tim Advokasi Tolak Tambang Pasir Lumajang menemukan fakta sadisnya penyiksaan para preman tambang terhadap Salim dan Tosan, dua warga penolak tambang. Salim disiksa hingga tewas, sementara Tosan berhasil diselamatkan warga lainnya.

Dalam rilis tertulis tim advokasi yang terdiri dari Laskar Hijau, Walhi Jawa Timur, Kontras Surbaya, dan LBH Disabilitas disebutkan, sebelum tewas dipukul dengan batu dan balok kayu, Salim (46) atau akrab dipanggil 'Salim Kancil', sempat disetrum dan digergaji. Tim advokasi menyampaikan, saat 40-an preman datang menyerbu rumahnya, Sabtu (26/9), Salim sedang menggendong cucunya yang berusia 5 tahun. 

"Mengetahui ada yang datang berbondong dan menunjukkan gelagat tidak baik Salim membawa cucunya masuk. Gerombolan tersebut langsung menangkap Salim dan mengikat dia dengan tali yang sudah disiapkan," tulis tim advokasi dalam rilis, Senin (28/9). Tim advokasi melanjutkan, para preman kemudian menyeret Salim dan membawa dia menuju Balai Desa Selok Awar-Awar yang berjarak 2 kilometer dari rumahnya. Sepanjang perjalanan menuju Balai Desa, gerombolan ini terus menghajar Salim dengan senjata-senjata yang mereka bawa, disaksikan warga yang ketakutan dengan aksi ini.

"Di Balai Desa, tanpa mengindahkan bahwa masih ada banyak anak-anak yang sedang mengikuti pelajaran di PAUD, gerombolan ini menyeret Salim masuk dan terus menghajarnya," tulis tim advokasi. Tim advokasi melanjutkan, di Balai desa, gerombolan ini sudah menyiapkan alat setrum yang kemudian dipakai untuk menyetrum Salim berkali-kali. Tak berhenti sampai di situ, mereka juga membawa gergaji dan dipakai untuk menggorok leher Salim. Namun, upaya mereka seolah tidak melemahkan Salim.

Melihat kenyataan Salim masih sehat, tulis tim advokasi dalam rilisnya, dalam keadaan balai desa yang masih ramai, gerombolan tersebut kemudian membawa Salim yang masih dalam keadaan terikat melewati jalan kampung menuju arah makam yang lebih sepi. "Di tempat ini mereka kemudian mencoba lagi menyerang salim dengan berbagai senjata yang mereka bawa. Baru setelah gerombolan ini memakai batu untuk memukul, Salim ambruk ke tanah," tulis tim advokasi.

Mendapati itu, menurut keterangan tim advokasi, mereka kemudian memukulkan batu berkali-kali ke kepala Salim. Di tempat inilah kemudian Salim meninggal dengan posisi tertelungkup dengan kayu dan batu berserakan di sekitarnya.

Polisi Tetapkan 18 Tersangka Pembunuhan Sadis 'Salim Kancil'

Kepolisian menetapkan 18 tersangka dalam kasus penganiayaan dan pembunuhan aktivis penolak penambangan pasir di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Kasus pembunuhan terhadap petani di desa Selok Awar-Awar itu ditangani Polres Lumajang.

"Sebanyak 18 orang sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Mapolres Lumajang," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono saat dihubungi per telepon dari Lumajang, Senin (28/9).

Menurut Prabowo, jumlah tersangka tersebut dapat bertambah berdasarkan hasil penyidikan dan penyelidikan yang dilakukan anggota Polres Lumajang dibantu dengan penyidik dari Polda Jatim. "Tim dari Wadir Reskrim Polda Jatim turun ke Lumajang sebagai bentuk upaya keseriusan polisi dalam menangani kasus itu. Kalau ditemukan cukup bukti dan keterangan saksi yang kuat, maka tersangka bisa bertambah," katanya.

Sementara Kapolres Lumajang AKBP Fadly Munzir Ismail saat memberikan keterangan kepada sejumlah wartawan mengatakan sebanyak 18 orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka memiliki peran masing-masing dalam penganiayaan dan pembunuhan korban. "Peran mereka banyak, ada yang mengajak, memerintahkan, memukul, hingga menyetrum, dan penyelidikan akan terus berkembang hingga kepada otak penganiayaan itu," tuturnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk mempercayakan kasus tersebut kepada aparat kepolisian dan tidak main hakim sendiri atas kejadian itu karena Polres Lumajang dengan dibantu Polda Jatim benar-benar serius mengusut tuntas kasus tersebut. "Kasus ini menjadi atensi dari Kapolri, sehingga beliau memerintahkan kepada kami melalui Kapolda Jatim untuk serius dan tidak main-main dalam menangani kasus penganiayaan dan pembunuhan di Lumajang," paparnya. (berbagai sumber)
      Berita Nasional :