Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Minggu, 07 Agustus 2011
Nila Sebelanga

PARTAI Demokrat, partai yang berkuasa dan tengah didera huru-hara oleh kader mereka, Muhammad Nazaruddin, sudah mengakhiri rapat koordinasi nasional (rakornas) yang berlangsung di Sentul, Bogor. Perhelatan politik selama dua hari itu usai tanpa terjadi pembersihan terhadap kader partai yang bermasalah.

Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mempersilakan kader yang tidak patuh pada etika berpolitik untuk keluar dari keanggotaan Partai Demokrat. Itu berarti partai memang tidak proaktif melakukan pembersihan, tetapi menyerahkan kepada yang merasa dirinya bermasalah untuk tahu diri. Karena itu, ada yang bermasalah menyebut dirinya tidak merasa disindir pidato Yudhoyono.

Sebenarnya tanda-tanda tak akan ada bersih-bersih tampak pada pesan yang bergelantungan di banyak spanduk menyambut rakornas. Ada di antaranya yang mengutip pepatah karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Pesan itu jelas bermakna bahwa yang menimpa Partai Demokrat merupakan perkara kecil. Hanya setitik nila. Karena itu, mereka tidak perlu bersih-bersih.

Padahal, kicauan Nazaruddin berisi tuduhan berat, sangat berat, baik dari sudut kelembagaan maupun dari segi magnitude. Dari segi kelembagaan, uang korupsi proyek yang dibiayai APBN dituduh mengalir ke pimpinan partai dan elite partai yang duduk di Badan Anggaran DPR. Ketua Umum Anas Urbaningrum bahkan disebut sebagai otak penggarongan.

Dari sudut magnitude, Nazaruddin menyebut uang US$5 juta dan Rp35 miliar yang diangkut dengan mobil boks dipakai untuk memenangkan Anas menjadi ketua umum dalam kongres di Bandung, tahun lalu.

Selain itu, bahkan ada konspirasi untuk menjadikan Chandra Hamzah sebagai Ketua KPK dengan menggunakan uang yang disaksikan Ketua Komisi III DPR Benny K Harman. Apakah semua itu nila setitik?

Korupsi yang dikicaukan Nazaruddin merupakan megakorupsi. Itu semua perkara besar, sangat besar, menyangkut nila sebelanga yang merusak Republik. Jika perkara besar dianggap kecil, jika nila sebelanga dianggap setitik, jangan harap ada perubahan yang membuat bangsa dan negara ini menjadi lebih baik. (RED/MICOM)
OPINI
      Berita Nasional :

      Berita Daerah  :