Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 – 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 – 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2012 @ majalahbuser.com
Jakarta - Mantan Danpuspom Mayjen TNI (Purn) Syamsu Djalal mengatakan sangat tidak mungkin anggota TNI, terlebih pasukan khusus seperti Kopassus, menembakkan senjatanya secara berkali-kali untuk melumpuhkan lawannya.
Selasa, 02 April 2013

Syamsu Djalal: Kopassus kalau Menembak Satu Nyawa Satu Peluru
"Kopassus itu kalau menembak satu nyawa satu peluru," ucapnya di Phoenam Cafe, Jakarta Pusat, Senin (1/4/2013).

Hal ini terkait penyerangan ke Lapas Cebongan, Sleman, oleh gerombolan bersenjata. Pelaku merangsek ke dalam lapas kemudian menembak empat orang narapidana hingga tewas.

Syamsu mengatakan, pasukan Kopassus dilatih untuk tidak sembarang menembak dan jika memang diharuskan menembak, tembakan yang dilepaskan harus langsung dapat mengenai target sasaran dan melumpuhkannya.

Ia lantas membanding-bandingkan dengan penyergapan teroris di sebuah rumah di daerah Temanggung beberapa waktu lalu. Saat itu, pasukan Densus 88 tak henti menyerang dengan cara menembaki sebuah rumah untuk melumpuhkan teroris.

Pihaknya juga menampik bahwa anggota Kopassus tidak pernah memakai rompi berwarna hitam lengkap dengan atribut, seperti helm dan lainnya. "Tidak ada itu rompi hitam. Adanya rompi loreng berlumuran darah," kata Syamsu.

Sebelumnya, dari hasil penyelidikan sementara, polisi menemukan sejumlah butir selongsong peluru kaliber 7,62 yang digunakan untuk menembak empat tahanan di Lapas Kelas II B Cebongan, Sleman, Yogyakarta. Pelaku penembakan diduga menggunakan senapan laras panjang AK-47 dan pistol jenis FN.

Gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat datang menyerang lapas, Sabtu (23/3/2013) dini hari. Dalam peristiwa itu, empat tersangka kasus pembunuhan anggota Kopassus, Sersan Satu Santosa, ditembak mati.

Keempatnya ialah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.

Serangan pelaku dinilai sangat terencana. Mereka melakukan aksinya dalam waktu 15 menit dan membawa CCTV lapas. Pelaku diduga berasal dari kelompok bersenjata yang terlatih.

Penyerangan di Lapas Sleman Terkait Narkoba?

Penyerangan dan pembunuhan empat tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta, disebut terkait dengan peredaran narkotika. Untuk itu, Kepolisian diminta melihat dugaan keterkaitan itu dalam penyelidikan.

"Kami amati, penembakan di Lapas Sleman tidak terlepas dari perdagangan narkoba. Penyelidikan apapun harus sampai ke perdagangan narkoba. Itu harus diungkap," kata Thamrin Amal Tamagola mewakili Koalisi Tokoh dan Masyarakat Sipil saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (27/3/2013). Selain Thamrin, koalisi ini juga beranggotakan Hendardi, Ikhrar Nusa Bakti, Otto Nur Abdullah, Bambang Widodo Umar, Haris Azhar, dan Al-Araf.

Hasil penelusuran di lapangan, kata Thamrin, salah satu dari empat tersangka yang dieksekusi mati di dalam lapas tahu banyak mengenai jaringan narkoba yang biasa beroperasi di Hugo's Cafe. "Kafe itu terkenal tempat operasi jaringan narkoba," kata dia.

Thamrin pun lalu menyinggung bebasnya peredaran narkoba di kota besar lainnya. "Di Jakarta juga terang-terangan (peredaran narkotika), tapi tidak digerebek. Ada tebang pilih. Uang yang beredar di bisnis narkoba dahsyat, triliunan rupiah setiap tahun," tambah sosiolog dari Universitas Indonesia itu.

Koalisi, kata Thamrin, telah sepakat membentuk tim independen untuk mencari fakta terkait peristiwa di Sleman. Mereka melihat ada komunikasi tidak jujur dari para pejabat negara, baik sipil maupun militer pascaperistiwa. Para pejabat terkesan menutup-nutupi, antara lain dengan langsung membantah adanya keterlibatan anggota TNI.

Jika dalam waktu tertentu Kepolisian tidak dapat mengungkap tuntas peristiwa tersebut, Koalisi Tokoh dan Masyarakat Sipil pun berencana membawa permasalahan itu ke Dewan Keamanan PBB. "Kami akan pergi ke Jenewa PBB karena (penyerangan ini) membahayakan rakyat. Harus ada penyelesaian tuntas dan menyeluruh atas tindakan eksekusi itu," pungkas Thamrin.

Seperti diberitakan, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat menyerang lapas. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop polda. Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo's Cafe.

Mereka mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak pihak lapas. Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang berpenutup mata masuk. Mereka menyeret petugas lapas menunjukkan empat tahanan yang dicari. Empat tahanan tersebut akhirnya ditembak mati. Mereka, yakni Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. (kompas)
ilustrasi: Kopassus
      Berita Nasional :

      Berita Daerah  :