Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Kabar jelek untuk bangsa Indonesia di tahun ini adalah nilai Ujian Nasional (UN) tingkat SMA sederajat untuk materi Bahasa Indonesia anjlok luar biasa, yakni 73 persen siswa tidak lulus materi tersebut.

Begitu juga di tingkat SMP mengalami hal yang sama, khususnya SMP di Jakarta sebanyak 4.198 siswa dari 13.326 peserta UN atau 31,5 persen tidak lulus UN karena gagal dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.
OPINI
      Berita Nasional :

      Berita Daerah  :

Selasa, 10/05/2011
'B4h45A 4l4y' Penyebab  Nilai UN Bahasa Indonesia Anjlok ?
Apa Penyebabnya?

Sebuah stasiun televisi swasta memberitakan bahwa ditengarai penggunaan bahasa gaul, khususnya dalam berkomunikasi sehari-hari di antara para remaja menjadi sebab menurunnya kemampuan siswa dalam berbahasa Indonesia. Hal ini berpengaruh langsung terhadap kemampuan siswa memahami materi pelajaran Bahasa Indonesia, dan akhirnya penalaran dalam menjawab soal UN juga terhambat.

Bahasa remaja atau ABG yang sedang populer sekarang ini adalah bahasa Alay yang biasanya digunakan secara tertulis berupa SMS (Short Message Service) atau status di Facebook (FB). Bahasa anak remaja yang merupakan bahasa gaul paling mutakhir ini memang bahasa paling kacau sepanjang sejarah bahasa gaul di Indonesia.

Kalau dulu bahasa gaul mempunyai aturan-aturan baku tertentu yang mesti dipatuhi, seperti bahasa prokem misalnya dengan menyisipkan kata "ok" untuk setiap perubahan kata, atau bahasa dibolak-balik yang mempunyai aturan sendiri, maka bahasa alay tidak mempunyai aturan sama sekali. Semakin sulit dipahami, maka bahasa alay dinilai semakin canggih.

Dengan meletakkan huruf kapital (huruf besar) dan kecil di mana saja suka-suka, menggantikan huruf tertentu dengan angka, simbol-simbol, atau huruf lain yang sebunyi, dan kemudian menyingkatnya sesuka hati, maka lengkaplah sudah kekacauan bahasa Alay.

Sebagai contoh, perhatikan atau bacalah jika mampu bahasa Alay berikut ini:

"BiazA jA x w. Ech rbU jA u bsa kN.Cz sLSa w LmbuR.BLk jam9an.Cz bnyk daTA yg LoM kLAR."

Atau bacalah ini:

"AqU BieZ bliH HanDphond Barruw LogH." Atau: "qMo mANk cLiD wAd cYanK m qHo." ?Atau: "5Yg,Km l6 dmn?Km M5H N6R454 mrh?J6n mrh dOn6 kM.KL mRh-mrh nt cPt Tw.pkny km j6n Mrh mlUlu 4J KRjny, nt jd s5k Np5 ky 0p4-0P."

Inilah terjemahan "kode" itu: "Biasa aja kali, gue. Eh, Rabu aja kamu bisa, kan? Coz Selasa gue lembur. Balik jam 9-an. Coz banyak data yang belum kelar." Sedangkan terjemahan kalimat kedua adalah "Aku habis beli handphone baru lho!"; "Kamu memang sulit buat sayang ama aku"; dan "Sayang, kamu lagi di mana? Kamu masih ngerasa marah? Jangan marah dong kamu. Kalau marah-marah nanti cepat tua. Pokoknya kamu jangan marah melulu saja kerjanya, nanti jadi sesak napas kayak opa-opa."

k4l4U aNda m3n6ert1 4rti tul154n 4l4y 1n1, beR4rt1 and4 t3r6ol0n6 al4y y4n6 l3b4y, h3heh3

Bagi kita yang bukan ABG lagi atau tidak biasa menggunakan bahasa ini pasti tidak mengerti. Tapi bolehlah kalau dicoba-coba untuk menafsirkannya. Siapa tahu nanti anda bisa menerapkannya untuk mengecek SMS di hape anak, keponakan atau adik anda yang masih ABG.

Penggunaan bahasa Alay oleh para remaja ABG mungkin dimaksudkan untuk menyingkat karakter agar efisien atau agar ortu (orang tua) yang kebetulan memergoki mereka ketika ber-SMS atau mencuri-curi membuka hape anaknya menjadi puyeng sendiri karena tidak mengerti.

Nah, kalau setiap hari para remaja kita sudah biasa ber-SMS-ria sampai ratusan kali dengan menggunakan bahasa Alay terus-menerus, tidak mustahil mereka menjadi linglung ketika harus menjawab soal bahasa Indonesia yang mempunyai aturan baku tentang penggunaan huruf besar dan kecil, tanda-tanda baca, dan lain-lain. Linglung, seperti makna Alay itu sendiri yaitu 'Anak Layangan' (anak yang melayang-layang/gentayangan)

Sepatutnya kita renungkan, kalau bahasa Alay sesulit itu anak-anak kita bisa, mengapa nilai UN Bahasa Indonesia justru anjlok. (red*/berbagai sumber)