Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 – 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 – 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Garut - Ribuan korban banjir bandang dan tanah longsor di beberapa kecamatan di wilayah Garut Selatan seperti Kecamatan Pameungpeuk, Cikelet, dan Cibalong membutuhkan bantuan selimut dan pakaian jadi.

Meski jumlah pengungsi yang mendiami posko-posko penampungan terlihat relatif menurun, para korban banjir sangat mengharapkan bantuan selimut dan pakaian bekas untuk mereka gunakan saat tidur di pengungsian pada malam hari.
Senin, 9 Mei 2011
Ribuan Korban Banjir Kedinginan Butuhkan Selimut
Ny Herna (45), salah seorang warga Desa Paas, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut mengatakan saat ini ia dan keluarganya sangat memerlukan pakaian maupun selimut.

Dikatakannya, peristiwa banjir bandang yang terjadi Jumat (6/5) malam lalu, kata dia, merendam rumahnya yang terletak tak jauh dari sungai Cipaleubuh.

Banjir setinggi dua meter yang merendam rumahnya saat itu, kata Herna, membuat ia dan keluarganya panik dan berlarian menyelamatkan diri. Tak sedikit pun ia berpikir untuk menyelamatkan barang-barang dan harta benda lainnya yang berada dalam rumah.

"Seluruh barang dan harta benda lainnya tak ada yang bisa diselamatkan. Saat itu kami hanya berpikir untuk menyelamatkan diri. Saat itu kami hanya membawa pakaian yang menempel di tubuh kami," kata ibu tiga anak itu kepada Tribun di Pameungpeuk, Minggu (8/5).

Karena banjir yang merendam rumahnya cukup tinggi, ia memastikan tak ada satu pun harta bendanya yang tidak terendam air. "Semuanya terendam, termasuk pakaian dan selimut. Kami sudah dua hari tak ganti pakaian. Yang kasihan anak-anak, takut mereka gatal," katanya sambil membersihkan sisa pakaiannya yang bisa diselamatkan.

Selain itu, ia mengaku anak-anaknya pada malam hari tak bisa tidur dengan nyenyak karena tidur dengan selimut yang dipakai beberapa orang. Apalagi pada Sabtu malam, ia dan anak-anaknya tidur di posko pengungsian di sekitar Kantor Kecamatan Pameungpeuk.

"Kalau malam anak-anak kasihan tak bisa tidur. Mereka kedinginan. Selimutnya terbatas sekali. Kami sangat memerlukan selimut dan pakaian," kata Herna dalam bahasa Sunda.

Hal serupa juga dikatakan Dana (50), warga Desa Mandala, Kecamatan Pameungpeuk. Akibat banjir bandang tersebut, rumah Dana hanyut terbawa arus sungai Cipaleubuh.

Kini ia dan keluarganya harus kehilangan tempat tinggal. Selain kehilangan rumah, ia juga harus kehilangan seluruh harta bendanya. Tak ada yang tersisa sama sekali.

"Semuanya habis. Rumah dan isinya seluruhnya hanyut diseret banjir. Kini yang terisa hanya pakaian yang menempel di tubuh kami," kata dia seraya mengatakan ia dan keluarganya sangat memerlukan pakaian dan selimut.

Selama satu hari, Dana beserta istri dan dua anaknya terpaksa tinggal di posko pengungsian. Namun meski baru selama 24 jam di pengungsian, ia mengaku sudah tak kerasan. Pasalnya ia dan keluarganya merasa kedinginan karena minimnya selimut di pengungsian.

"Tadi malam udaranya terasa sangat menyiksa. Dingin sekali, di sini kan dekat dengan laut, jadi kalau malam hari anginnya sangat besar," kata Dana. (tribunnews)
Korban Banjir di Garut
      Berita Daerah  :

      Berita Nasional :