Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
copyright . 2015 @ majalahbuser.com
Jakarta Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mengonfirmasi bahwa seorang anak buah kapal warga negara Indonesia (ABK WNI) kapal tugboat Charles bernam Muhamad Sofyan (28) yang disandera di kelompok Abu Sayyaf telah dibebaskan.

"Kami langsung berkoordinasi dengan pemerintah Filipina. Hari ini (Rabu) pukul 13.00 waktu setempat Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sudah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Filipina Perfecto Yasay Jr., soal bebasnya Muhammad Sofyan. Saat ini dia sudah diamankan pihak Kepolisian Sulu di Filipina Selatan," kata Iqbal di Jakarta, Rabu, 17 Agustus 2016.

Sofyan ditemukan oleh penduduk setempat di garis pantai Barangay Bucal, kota Luuk, Sulu, Filipina Selatan, sekitar pukul 07.30 waktu setempat. Sementara itu, Tim dari KBRI Manila dan KJRI Davao langsung bergegas menuju Zamboanga City guna menangani proses selanjutnya dan memastikan kondisi yang bersangkutan.

Empat hari lalu Menlu Retno dan Menlu Perfecto berdialog untuk meminta dilakukannya gencatan senjata demi keselamatan 11 sandera. "Kami memperoleh info juga bahwa sejak dua hari lalu gencatan senjata telah terjadi," ungkapnya.

Tenggat waktu (deadline) tebusan uang sebesar Rp60 miliar untuk 11 anak buah kapal warga negara Indonesia (ABK WNI) yang disandera Abu Sayyaf sudah lewat, yakni Senin, 15 Agustus 2016.

Pakar terorisme internasional, Rakyan Adibrata, meyakini, pemerintah Indonesia terus membuka upaya negosiasi. "Semua opsi dibuka. Menurut saya yang terbesar negosiasi tanpa mengeluarkan uang. Artinya, diplomasi total," kata Rakyan

Presiden Duterte Perintahkan Militer Habisi Abu Sayyaf

Presiden Rodrigo Roa Duterte memerintahkan kepada tiga matra di tubuh Angkatan Bersenjata Filipina, yakni AD, AL, dan AU, untuk menumpas habis kelompok militan Abu Sayyaf.

Melansir situs Reuters, Kamis, 11 Agustus 2016, pernyataan Duterte ini disampaikan dalam pidatonya di Pangkalan Militer Zamboanga, Mindanao, Filipina Selatan. Menurutnya, kawasan selatan yang mayoritas dihuni warga Muslim Filipina terancam dipengaruhi oleh paham ISIS apabila langkah tegas tidak cepat dilakukan. "Hancurkan mereka. Itu adalah perintah!" tegas Duterte.

Mantan Wali kota Davao itu menyatakan Abu Sayyaf berbeda dari gerakan pemberontak Muslim lainnya, seperti Front Pembebasan Bangsa Moro (MILF). Abu Sayyaf, kata Duterte, adalah kelompok bandit berkedok militan. Mereka membunuh warga sipil tanpa alasan dan sejak awal tidak membuka ruang negosiasi. "Jika kita membiarkan semua ini berlangsung, maka tiga sampai tujuh tahun ke depan Filipina akan mulai memiliki persoalan tentang ISIS," jelasnya.

Duterte menepati janjinya untuk merespons cepat penanganan aksi-aksi penculikan kelompok tersebut. Awalnya, janji itu dilontarkan Duterte sebelum dilantik menjadi presiden pada 30 Juni lalu. "Akan tiba waktunya bagi saya untuk berhadapan langsung dengan Abu Sayyaf," tuturnya, kala itu.
Pemberantasan Abu Sayyaf menjadi agenda berikutnya Duterte, setelah perang terhadap narkoba dan reformasi birokrasi mulai berjalan. (viva)
Rabu, 17 Agustus 2016

Satu ABK WNI Dibebaskan Abu Sayyaf
      Berita Nasional :

      Berita Daerah  :

ilustrasi: militan filipina