Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2012 @ majalahbuser.com
Jakarta - Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah memberikan dukungannya kepada Anas Urbaningrum, yang hendak dijemput paksa oleh KPK.

Fahri mengatakan, Anas adalah korban. Padahal, yang harusnya menjadi tersangka bukan Anas.
Rabu, 8 Januari 2014

Fahri: Ibas Lebih Layak Tersangka Ketimbang Anas
Menurut Fahri, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas yang layak menjadi tersangka.

"Pak ketum...ini kasus politik....nazar hanya sakit hati...dan dipakai. Maju dan lawan pak ketum @anasurbaningrum !," kata Fahri dalam akun twitternya @Fahrihamzah, Selasa (7/1/2014).

Fahri yakin Anas menjadi tumbal politik. Padahal, seharusnya putrua bungsu Presiden SBY, Ibas yang harus menjadi tersangka.

"Ibas lebih pantas dijadikan tersangka...daripada pak ketum...@anasurbaningrum ..," lanjut Fahri berkicau.

Walau tidak berada di Jakarta, Fahri menegaskan dukungannya kepada mantan Ketua Umum DPP Partai Demokrat tersebut.

"Dari lombok kudoakan pak ketum..@anasurbaningrum," pungkas anggota Komisi III DPR ini.


Anas Ingatkan KPK Tak Sewenang-wenang

Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, mengingatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak menggunakan kewenangannya dengan upaya yang dipaksa-paksakan.

Melalui kuasa hukumnya, Firman Wijaya, Anas mengatakan tidak keberatan jika KPK melakukan upaya pemanggilan paksa. Namun demikian, Ia berharap agar KPK dapat menjalankan kewenangannya dengan baik.

"Hanya saya mengingatkan, upaya paksa itu tidak boleh menjadi upaya yang dipaksa-paksakan. Sekalipun punya kewenangan, tapi jangan penggunaan kewenangan itu jadi sewenang-wenang," tegas Firman, di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (7/1/2014).

Sebab, menurut Firman, upaya paksa yang hendak dilakukan lebih kentara aroma politis. Sebab, kata dia, penyidikan kasus tersebut lebih kentara rivalitas politiknya dibanding kasus itu sendiri.

"Kami justru sangat terkejut dengan proses peradilan yang selama ini disangkutpautkan dengan Pak Anas. Termasuk pernyataan Pak Suaidi Marasabessy. Kasus ini lebih kuat rivalitas politiknya dalam sebuah kasus pidana ketimbang persoalan substansinya," sebutnya.


Kubu Anas: Kok Abraham Samad Marah-marah?

Firman Wijaya, Kuasa hukum Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, mempertanyakan reaksi emosional dari petinggi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas pertanyaan pihaknya terkait sangkaan yang dikenakan terhadap Anas.

"Saya dengar Pak Abraham Samad marah-marah, kok agak arogan?" ujar Firman di kediaman Anas, Duren Sawit, Selasa (7/1/2014).

Menurut Firman, adalah hak Anas untuk mengajukan pertanyaan terkait sangkaan terhadap dirinya. Tidak ada alasan apapun yang kemudian membenarkan seorang aparat penegak hukum kemudian menjadi berang.

"Saya lihat pernyataan yang keluar melampaui batas, kami menyesalkan itu," tuturnya.
Apalagi, lanjut Firman, selama ini Anas melakukan komunikasi dengan baik terhadap KPK. Ia menyebut apa yang dilakukan Abraham Samad dengan bersikap emosional dan arogan akan membebani KPK secara kelembagaan di mana ia menjadi pucuk pimpinannya.

"Apa sulitnya menjelaskan, bahasa marah-marah seperti itu tidak memberikan penjelasan apapun," katanya. (berbagai sumber)
Politisi PKS Fahri Hamzah dan Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas

      Berita Daerah  :

      Berita Nasional :