Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2011 @ majalahbuser.com
Welcome to Our Website   www.majalahbuser.com
Redaksi Iklan Pemasaran : Komplek Ruko Stadion Brawijaya  Jl. Ahmad Yani D-6  Kediri
Telp.(0354)-7000500 Fax. 0354 692543  E-mail : redaksi@majalahbuser.com
copyright . 2012 @ majalahbuser.com
Jakarta - Hari masih siang, dan matahari masih memunculkan teriknya. Dari kejauhan, pria paruh baya berjalan tertatih menggunakan bantuan tongkat, dan menenteng tas tangan.

Dari raut wajahnya, pria yang mengenakan baju batik biru tua, tampak kelelahan. Namun, terpancar harapan dari matanya untuk mengadu dan mencari keadilan bagi almarhumah adiknya.
Rabu, 26 Juni 2013

Pria Ini Tujuh Tahun Mencari Pembunuh Adik Sepupunya
Dengan penuh harap, pria itu memasang kertas yang digantungkan di lehernya, bertuliskan 'Ke mana Lagi Saya Harus Mengadu.'

Pria paruh baya itu bernama Mardik Sabirin. Ia datang seorang diri ke Mapolda Metro Jaya, Senin (24/6/2013) siang, dari kediamannya di Kampung Pete, Kelurahan Kalong Sawah, Jasinga, Bogor, Jaawa Barat.

"Tolong saya. Tujuh tahun sudah saya mencari keadilan bagi adik sepupu saya, almarhum Rahima Mahdi Yopi, yang dibunuh dan rumahnya dibakar di Jalan Percetakan Negara II, Jakarta Pusat pada 25 Juni 2006. Sampai saat ini pelakunya belum terungkap," ungkap Mardik.

Mardik mengaku banyak menemui kejanggalan dan praktik ketidakwajaran, dalam proses penyidikan dan penyelidikan, demi mengungkap siapa pelaku yang membunuh Rahimah.

Beberapa kejanggalan di antaranya, menurut Mardik, oknum penyidik tega meminta sejumlah uang (belasan juta Rupiah) pada keluarganya, untuk biaya operasional dalam pengungkapan peristiwa tersebut. Diduga, pelaku pembunuhan 'bermain' dengan polisi, sehingga kasus ini tak kunjung terungkap.

Atas keganjilan dan perjuangan mencari keadilan, Mardik telah berkali-kali hilir mudik ke berbagai tempat untuk mengadu dan mencari keadilan, di antaranya ke Kompolnas, Kapolri, Komnas HAM, dan LBHI. Namun, selama tujuh tahun hasilnya nihil.

Mardik menceritakan, tragedi pembunuhan sadis terhadap Rahima Yopi, terjadi pada 25 Juni 2006 di Jalan Percetakan Negara II No 29-32, Johar Baru, Jakarta Pusat.

Tak hanya dibunuh, rumah korban juga dibakar. Rahima memiliki anak angkat bernama Desi Trisnawati, dan suaminya bernama Dimas Sasmito.

Pihak keluarga mengira Desi telah melaporkan peristiwa pembunuhan ke Polsek Johar Baru. Nyatanya, Desi hanya melaporkan kehilangan buku tabungan ibu angkatnya di enam bank berbeda di Jakarta, dengan nomor laporan LP 339/B/III/2007/SEKTRO JB.

Jauh sebelum pembunuhan, papar Mardik, hubungan antara Dimas dan mertuanya (korban) sudah renggang, dan tidak bertegur sapa. Diduga, karena keluarga Dimas mengingkari janji tidak mau membayar biaya pesta pernikahan, yang menurut kesepakatan akan ditanggung bersama.

Setiap kali korban menagih, Dimas selalu mengelak dan Desi ikut memarahi korban. Sampai akhirnya, Dimas dan Desi diusir oleh korban dan tinggal berpindah-pindah.

Pasangan suami istri sempat meminta maaf kepada korban, tapi ditanggapi dingin oleh korban.

"Saya menduga mereka (Dimas dan Desi) ingin menguasai harta korban sekitar Rp 18 miliar, berupa aset, perhiasan, dan emas batangan. Desi dan korban juga sering terlibat pertengkaran. Desi pernah menggerutu, lama-lama harta mama (korban) untuk saudara mama dan aku (Desi) disingkirkan," ungkap Mardik.

Di hari pembunuhan, Desi dan Dimas datang bersama putranya dan baby sitter. Mereka berniat meminjam mobil milik korban, dan menitipkan mobil mereka di halaman rumah korban, lalu pergi ke Puncak, Bogor.

Sore harinya, pelaku pembunuhan datang dan langsung menanyakan keberadaan korban pada pembantu rumah tangga bernama saripah. Karena Saripah kenal dengan pelaku dan sudah dua kali datang berpura-pura mau membeli rumah, akhirnya pelaku bertemu korban.

"Saat Saripah membuatkan teh, pelaku memukul dia sampai sekarat. Lalu adik saya (korban) dibantai hingga tewas, dan rumahnya dibakar. Sampai saat ini pelaku belum tertangkap, saya duga otak di balik pembunuhan ini menantu adik saya," duga Mardik. (tribunnews)
mardik-sabirin
      Berita Nasional :

      Berita Daerah  :